Monthly Archives: Januari 2012

Angin Topan Tabuk Yang di Kabarkan

Sebuah Kisah diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya Kitab Fadhail no. 1392.[1]

Sahabat Abu Humaid Radhiyallahu’anhu berkata: “Kami keluar, berjalan bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk perang Tabuk. Dengan mengharap ridha-Nya sahara kami lalui. Dalam perjalanan itu kami pun tiba di Wadi Al-Quro, singgah di sebuah perkebunan kurma milik seorang wanita.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Coba kalian taksir (berapa kira-kira kebun ini menghasilkan panennya)!”  

Kitapun mengira-ira berapa kurma yang dihasilkan dari kebun itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau juga menaksirnya sepuluh wasaq.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai pemilik kebun, hitunglah hasil kebunmu, sampai nanti kita kembali kepadamu insya Allah.”

Tentara-tentara Allah kembali melanjutkan perjalanan, kami meninggalkan Wadi Al-Qura. Demikian tutur Abu Humaid Radhiyallahu ‘anhu.

Setiba kami di Tabuk, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Angin besar akan menimpa kalian malam ini, maka jangan sekali-kali salah seorang dari kalian berdiri, dan siapa yang memiliki unta hendaknya dia ikat erat-erat untanya.”

Darimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kejadian yang belum terjadi? bukankah beliau tidak mengetahui ghaib?

Berita tersebut tentunya wahyu dari Allah ta’ala, sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya …” (QS. Al Jin: 26-27)

Kabar Rasul Shalallahu ‘alaihi wa sallam terjadi, angin yang sangat besar menerpa. Semua yang mengiringi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Tabuk menyaksikan kebenaran berita beliau, sebagai mukjizat dari Allah ta’ala. Badai angin datang menghempaskan apa saja yang dilaluinya.

Saat angin bertiup kencang, berdiri seorang laki-laki, angin pun menerpanya dan membawanya hingga terlempar di gunung Thai ….

Itulah sebagian kejadian di Tabuk, waktu berlalu hingga datanglah saat kembali ke Madinah.

Seperti dijanjikan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kembali singgah di Wadi Al-Qura, di kebun wanita yang dahulu kami bersinggah.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada wanita pemilik kebun: “Berapa kurma-kurma yang dihasilkan dari kebunmu?”

Wanita itu berkata: “Sepuluh wasaq.” – sesuai taksiran Rasul Shalallahu ‘alaihi wa sallam –

Kami lalu melanjutkan perjalanan hingga sampai ke Thaybah. )Nama lain kota Madinah)

(Dinukil dari buku: Kisah-kisah Menakjubkan dari Mukjizat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, penyusun: Abu Isma’il Muhammad Rijal, Lc)


[1] Kisah ini diriwayatkan pula Al-Bukhari rahimahullah dalam Ash-Shahih

Membawa Hewan Ternak ke Tanah Lapang Saat Istisqa’

Apakah disyareatkan bagi kita untuk membawa hewan-hewan ternak ke tanah lapang saat shalat istisqa’ ?

Jawab:

Sebagian fuqaha’ dari kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah memang berpendapat demikian, disunnahkan membawa keluar hewan-hewan ternak saat shalat istisqa’, sebagaimana disebutkan Ash-Shan’ani dalam Subulus Salam (3/283).

Mereka berdalil dengan sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Ad-Daruquthni (2/66) dan Al-Hakim (1/325-326):

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – خَرَجَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ اَلسَّلَامُ يَسْتَسْقِي, فَرَأَى نَمْلَةً مُسْتَلْقِيَةً عَلَى ظَهْرِهَا رَافِعَةً قَوَائِمَهَا إِلَى اَلسَّمَاءِ تَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنَّا خَلْقٌ مِنْ خَلْقِكَ, لَيْسَ بِنَا غِنًى عَنْ سُقْيَاكَ, فَقَالَ: ارْجِعُوا لَقَدْ سُقِيتُمْ بِدَعْوَةِ غَيْرِكُمْ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Nabi Sulaiman pernah keluar untuk memohon hujan, lalu beliau melihat seekor semut terlentang di atas punggungnya dengan kaki-kakinya terangkat ke langit seraya berkata: “Ya Allah kami adalah salah satu makhluk-Mu yang bukan tidak membutuhkan siraman airmu. Maka Nabi Sulaiaman berkata: Pulanglah, kamu benar-benar akan diturunkan hujan karena doa makhluk selain kamu.”

Disamping hadits ini yang mereka jadikan dalil, mereka juga menyebutkan alasan bahwa kekeringan juga melanda hewan, maka hewanpun ikut dikeluarkan untuk menghadiri istisqa’.

Namun yang benar dari dua pendapat ulama adalah pendapat yang mengatakan tidak disyareatkan mengeluarkan hewan-hewan ternak mengikuti shalat istisqa dengan beberapa alasan berikut:

Pertama: Rasulullah saw tidak melakukan hal ini

Kedua: Membawa keluar hewan-hewan ternak ke luar mengakibatkan kita sibuk dengan hewan-hewan tersebut disamping kita terganggu dengan suara-suara mereka saat melaksanakan shalat istisqa

Ketiga: Adapun hadits Abu Hurairah ra seandainya shahih tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah, karena dalam hadits tersebut Nabi Sulaiman tidak membawa hewan keluar namun beliau hamya berpapasan dengan seekor semut yang memohon hujan kepada Allah ta’ala. Wabillahittaufiq. (Tentang Takhrij Hadits ini dan faedah-faedahnya insyaallah kita susulkan dalam syarah hadits)

Di unggah dari : http://salafartikel.wordpress.com/