Daily Archives: Januari 30, 2012

Larangan Mencerca Angin

عن أبي بن كعب رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (لا تسبوا الريح، فإذا رأيتم ما تكرهون فقولوا: اللهم إنا نسألك من خير هذه الريح، وخير ما فيها، وخير ما أمرت به، ونعوذ بك من شر هذه الريح، وشر ما فيها، وشر ما أمرت به) صححه الترمذي.

Dari Ubay bin Ka’ab t berkata: Nabi r bersabda: Jangan kalian mencerca angin. Jika kalian melihat (pada angin) sesuatu yang tidak kalian sukai maka ucapkanlah doa (Allahumma….) “Ya Allah, Sesungguhnya kami meminta kepada-Mu dari kebaikan angin ini dan kebaikan apa yang ada padanya dan kebaikan apa yang Engkau perintahkan kepada angin tersebut. Dan kami berlindung kepada-Mu dari kejelekan angin ini dan dari kejelekan apa yang ada padanya dan dari kejelekan apa yang Engkau perintahkan kepadanya. Hadits ini dishahihkan oleh At Tirmidzi.

 

Penjelasan

Hadits ini dishahihkan oleh At Tirmidzi, Dan benar ucapan beliau.

Bab ini, -larangan mencerca angin- adalah semisal dengan bab sebelumnya yaitu larangan mencerca masa (waktu). Allah, Dia lah yang memiliki masa, mengatur silih bergantinya siang dan malam, maka Dia pula yang mengatur angin. Angin adalah makhluk Allah yang mudabbar (diatur) dan musakh-khar  (tunduk patuh dengan perintah-Nya).

Angin, membawa kebaikan atau kejelekan dengan izin Allah semata. Bukan atas kehendak sendiri. Allah lah yang mengatur dan menjalankannya. Oleh karena itu, jika kita melihat sesuatu yang tidak kita sukai dari angin tersebut, Nabi r membimbing kita untuk bersandar kepada pemiliknya, memohon kebaikan dan berlindung dari kejelekannya kepada Allah Ta’ala, dengan doa di atas.  Jangan sampai kita mencerca dengan kata-kata laknat, atau cacian atau ungkapan apa saja yang menyiratkan makna celaan.

Dalam Al Quran, Allah banyak sebutkan tentang makhluk ini (yakni Angin). Seluruh ayat menyebutkan bahwa angin, Allahlah yang mengirim dan memperjalankannya. Angin membawa kebaikan dan maslahat yang besar bagi kehidupan manusia. Dan di lain waktu, angin adalah tentara Allah yang diutus untuk membinasakan kaum yang Allah kehendaki. Di antara ayat yang menyebutkan bahwa angin membawa manfaat dan kebaikan bagi manusia adalah:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Al-A’raaf:57

 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahan kamu bersyukur. Ar-Ruum:46

 

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. Al-Hijr:22

 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالأبْصَارِ

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. An-Nuur:43

Adapun di antara ayat yang menunjukkan bahwa angin adalah tentara Allah yang diutus untuk membinasakan kaum yang Allah kehendaki adalah firman-Nya

 

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لا يُنْصَرُونَ

 

Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. Al-Fushshilat:16

وَلَئِنْ أَرْسَلْنَا رِيحًا فَرَأَوْهُ مُصْفَرًّا لَظَلُّوا مِنْ بَعْدِهِ يَكْفُرُونَ

Dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin (kepada tumbuh-tumbuhan) lalu mereka melihat (tumbuh-tumbuhan itu) menjadi kuning (kering), benar-benar tetaplah mereka sesudah itu menjadi orang yang ingkar. Ar-Ruum:51

 

Sebagai faedah, belum lama ini ada seorang ikhwah yang tinggal di salah satu negera Di Eropa menceritakan bahwa  suatu ketika ia berada di sebuah apartemen. Tiba-tiba datanglah angin yang sangat kuat hingga mengguncangkan apartemen tempat ia tinggal.  Dalam 2 menit  saja banyak bangunan-bangunan tinggi roboh, dan hancur kebun-kebun di sekitar bangunan-bangunan tersebut, sehingga kerugian yang ditaksir mencapai 100 juta poundsterling.

 Bab (yang sedang kita pelajari) ini, ikhwan fillah menyadarkan kita bahwa Allah Ta’ala Dialah Al-Mudabbir. Kepada-Nyalah kita gantungkan hati kita, kita bertaubat dan kembali kepada Allah berdoa dan berlindung kepada-Nya jika mendapati angin yang kita khawatirkan membawa bencana dengan doa yang penuh berkah dari Nabi kita r …..

(Diterjemahkan oleh  Abu Hamid Fauzi hafidhzahulloh dari Kajian Ba’da Zhuhur, Kitabut Tauhid Syaikh Abdurrahman bin ‘Umar Al-Mar’i ‘Adn, Ahad, 4 Rabi’ul Tsani 1431 – 21 Maret 2010)

Di unah dari : http://salafartikel.wordpress.com/

Allah ta’ala Menciptakan Adam Dengan Bentuknya ?!

عن أبي هُرَيْرَةَ َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فَلَمَّا خَلَقَهُ قَالَ اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ النَّفَرِ وَهُمْ نَفَرٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ جُلُوسٌ فَاسْتَمِعْ مَا يُجِيبُونَكَ فَإِنَّهَا تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ قَالَ فَذَهَبَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالُوا السَّلَامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ قَالَ فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ قَالَ فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ بَعْدَهُ حَتَّى الْآنَ

 

 “Dari Abu Hurairah t Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah menciptakan Adam dalam bentuknya (Adam) tingginya emampuluh hasta. Maka ketika Allah telah menciptakannya Allah berfirman: “Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka- yaitu sekelompok malaikat yang sedang duduk- dan dengarlah apa jawab mereka kepadamu, sesungguhnya itu adalah salam (penghormatan) mu dan keturunanmu. Maka pergilah Adam dan mengucapkan (salam kepada malaikat) : Assalamu’alaikum. Mereka menjawab: “Assalamu ‘alaika warohmatulloh” maka malaikat menambah dalam jawaban: “warahmatulloh”, Bersabda Rasulullah : Semua orang yang masuk jannah berada dalam bentuk Adam, tingginya enampuluh hasta, dan terus-menerus anak adam berkurang tingginya hingga saat ini.” (H.R. Muslim, hadits ini termasuk dalam Shahifah Hammam bin Munabbih)

 

Penjelasan Hadits

Apa Maksud Hadits: “Kholaqollohu Adama Ala Shurotihi”? (Allah menciptakan Adam dalam bentuknya) kemanakah kembalinya dhomir (kata ganti) hu (dia)? Apakah kepada Allah Ta’ala atau kepada Adam?

Jika kata ganti itu kembali kepada Allah –yang berarti dalam penerjemahannya kita katakan: “Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.”- Bolehkah difahami adanya tasybih (penyerupaan) Allah dengan Adam –wal’iyadzu billah- ? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin muncul pada benak kaum muslimin yang membaca hadits ini.

Apa yang tertuang pada catatan sederhana ini semoga bisa memberikan faedah dan jawaban yang cukup atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Insyaallah.

 

Allah tidak serupa dengan makhluq

Diantara Aqidah Rasulullah r, shahabat dan ahlussunnah wal jamaah adalah keyakinan bahwasannya Allah tidak serupa dengan makhluk, baik dzat-Nya, perbuatn-perbuatan-Nya ataupun shifat-shifat-Nya. Allah ta’ala berfirman:

( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ )

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Asy-Syura: 11

Di atas keyakinan ini maka hadits “Kholaqollahu Adam ‘ala shurotihi”  tidak boleh difahami adanya tasybih antara sifat Allah dengan sifat makhluk-makhluk-Nya, terlepas dari permasalahan kemana dhomir (kata ganti) “hu” Kembali, apakah kepada Allah Ta’ala atau kepada Adam.

 

Manakah yang paling rojih dari pendapat ulama tentang kembalinya dhomir “Hua”

Setelah muqaddimah di atas barulah kita masuk ke dalam khilaf (perbedaan pendapat) ulama dalam masalah kembalinya dhomir “Hu” dalam sabda Rasulullah r “Kholaqallahu Adam Ala Shurotihi” (Allah menciptakan Adam dalam bentuknya/-Nya).

Tentang masalah kembalinya dhomir “Hu” dalam hadits terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama.

Pendapat pertama: Sebagian ulama mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali kepada Allah berdasarkan lain yang berbunyi  “Kholaqallahu Adam ‘Ala shuroti Ar-Rohman” (Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman). Dengan demikian riwayat ini menafsirkan riwayat “Ala Shurotihi” [sebagaimana hal ini adalah pendapat Syaikh Abdul ‘Aziz bin bazz].

Pendapat kedua mengatakan bahwa dhomir (kata ganti) kembali kepada Adam, adapun riwayat yang berbunyi “… ‘Ala Shuratir rahman.” Adalah riwayat yang Syadz. Di antara mereka adalah Asy-Syaikh Muhammmad Nashiruddin Al-Albany.

 

Mana Yang Rajih ?

Adapun pendapat yang benar dalam masalah ini- wallahu a’lam- adalah pendapat kedua dengan alasan:

  1. 1.   Pertama: Bahwasannya riwayat “Ala shuroti Ar-Rohman” yang dijadikan dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa dhomir kembali kepada Allah adalah riwayat yang bathil, sehingga Imam Ahmad tidak menshohihkan Hadits ini). Sebagaimana diterangkan syaikh AL-Albani rahimahullah. Pembahasan hadits ini secara ilmiyah dapat dilihat dalam Silsilah Adh-Dho’ifah  [2/216] No.1176 .
  1. Kedua: Dhomir “Hu” tidak diragukan kembali kepada Adam –bukan kepada Allah- karena lafadz berikutnya menafsirkan dhomir Hu tersebut yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “Thuluhu sittuna dziro’an” (Allah ciptakan Adam dalam bentuknya, tingginya enampuluh hasta) dipastikan dan tdak diragukan bahwa ukuran tinggi enampuluh hasta adalah sifat makhluq bukan shifat Allah Ta’ala.

 

Tinggalah di hadapan kita satu permasalahan, yaitu jika dhomir kembali kepada Allah –seperti pendapat sebagian ulama- apa makna Hadits?

 

Untuk menjawabnya kita kembali kepada kaedah Allus Sunnah wal Jamaah yang telah kita singgung di awal majelis bahwasanya Allah tidak serupa dengan makhluq-Nya. Maka apapun yang dirojihkan oleh ulama tentang kembalinya dhomir hu, semua bersepakat bahwa hadits ini tidak ada makna tasybih- wallahu a’lam.

Jika dhomir “Hu” kembali kepada Allah maka ulama yang menguatkan pendapat ini (seperti syaikh bin bazz) meyakini tidak adanya tasybih dan tamtsil antara shifat Allah dan makhluk-Nya. Adapun maksud hadits ini kita katakan: “Allah ciptakan Adam seperti Ar-Rohman dari sisi bahwasannya Allah menciptakan Adam memiliki beberapa sifat di antaranya: wajah, tangan, jari-jemari, mendengar, melihat, berilmu. Dan sebagian sifat-sifat ini ada pada Allah, akan tetapi tentunya berbeda antara shifat Allah dan shifat makhluq, sebagaimana telah diketahui bahwasannya persamaan nama tidak mengharuskan persamaan hakekat, tidakkah kita perhatikan bahwa semut punya kaki dan gajah punya kaki, keduanya memliki sifat yang sama yaitu kaki akan tetapi kedua kaki mereka sangat berbeda. Jika dalam makhluk saja demikian maka bagaimana dengan Allah dan makhluk-Nya.

 

Sebagai penutup kita lampirkan Fatwa  Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Bazz rahimahullah dalam permasalahan ini, masih dalam bahasa Arab:

س : ورد حديث عن النبي r ينهي فيه عن تقبيح الوجه ، وأن الله سبحانه خلق آدم على صورته . . فما الاعتقاد السليم نحو هذا الحديث ؟  

ج : الحديث ثابت عن النبي r أنه قال :  ( إذا ضرب أحدكم فليتق الوجه فإن الله خلق آدم على صورته ) وفي لفظ آخر : (على صورة الرحمن ) وهذا لا يلزم منه التشبيه والتمثيل . والمعنى عند أهل العلم أن الله خلق آدم سميعا بصيرا ، متكلما إذا شاء ، وهذا هو وصف الله فإنه سميع بصير متكلم إذا شاء ، وله وجه جل وعلا . وليس المعنى التشبيه والتمثيل ، بل الصورة التي لله غير الصورة التي للمخلوق ، وإنما المعنى أنه سميع بصير متكلم إذا شاء ومتى شاء ، وهكذا خلق الله آدم ، سميعا بصيرا ، ذا وجه وذا يد وذا قدم ، ولكن ليس السمع كالسمع ، وليس البصر كالبصر ، وليس المتكلم كالمتكلم ، بل لله صفاته جل وعلا التي تليق بجلاله وعظمته ، وللعبد صفاته التي تليق به ، صفات يعتريها الفناء والنقص ، وصفات الله سبحانه كاملة لا يعتريها نقص ولا زوال ولا فناء ، ولهذا قال عز وجل : ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ) وقال سبحانه : (وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ) فلا يجوز ضرب الوجه ، ولا تقبيح الوجه .

Du unggah dari : http://salafartikel.wordpress.com/