Allah ta’ala Menciptakan Adam Dengan Bentuknya ?!

عن أبي هُرَيْرَةَ َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فَلَمَّا خَلَقَهُ قَالَ اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ النَّفَرِ وَهُمْ نَفَرٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ جُلُوسٌ فَاسْتَمِعْ مَا يُجِيبُونَكَ فَإِنَّهَا تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ قَالَ فَذَهَبَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالُوا السَّلَامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ قَالَ فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ قَالَ فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ بَعْدَهُ حَتَّى الْآنَ

 

 “Dari Abu Hurairah t Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah menciptakan Adam dalam bentuknya (Adam) tingginya emampuluh hasta. Maka ketika Allah telah menciptakannya Allah berfirman: “Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka- yaitu sekelompok malaikat yang sedang duduk- dan dengarlah apa jawab mereka kepadamu, sesungguhnya itu adalah salam (penghormatan) mu dan keturunanmu. Maka pergilah Adam dan mengucapkan (salam kepada malaikat) : Assalamu’alaikum. Mereka menjawab: “Assalamu ‘alaika warohmatulloh” maka malaikat menambah dalam jawaban: “warahmatulloh”, Bersabda Rasulullah : Semua orang yang masuk jannah berada dalam bentuk Adam, tingginya enampuluh hasta, dan terus-menerus anak adam berkurang tingginya hingga saat ini.” (H.R. Muslim, hadits ini termasuk dalam Shahifah Hammam bin Munabbih)

 

Penjelasan Hadits

Apa Maksud Hadits: “Kholaqollohu Adama Ala Shurotihi”? (Allah menciptakan Adam dalam bentuknya) kemanakah kembalinya dhomir (kata ganti) hu (dia)? Apakah kepada Allah Ta’ala atau kepada Adam?

Jika kata ganti itu kembali kepada Allah –yang berarti dalam penerjemahannya kita katakan: “Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.”- Bolehkah difahami adanya tasybih (penyerupaan) Allah dengan Adam –wal’iyadzu billah- ? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin muncul pada benak kaum muslimin yang membaca hadits ini.

Apa yang tertuang pada catatan sederhana ini semoga bisa memberikan faedah dan jawaban yang cukup atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Insyaallah.

 

Allah tidak serupa dengan makhluq

Diantara Aqidah Rasulullah r, shahabat dan ahlussunnah wal jamaah adalah keyakinan bahwasannya Allah tidak serupa dengan makhluk, baik dzat-Nya, perbuatn-perbuatan-Nya ataupun shifat-shifat-Nya. Allah ta’ala berfirman:

( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ )

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Asy-Syura: 11

Di atas keyakinan ini maka hadits “Kholaqollahu Adam ‘ala shurotihi”  tidak boleh difahami adanya tasybih antara sifat Allah dengan sifat makhluk-makhluk-Nya, terlepas dari permasalahan kemana dhomir (kata ganti) “hu” Kembali, apakah kepada Allah Ta’ala atau kepada Adam.

 

Manakah yang paling rojih dari pendapat ulama tentang kembalinya dhomir “Hua”

Setelah muqaddimah di atas barulah kita masuk ke dalam khilaf (perbedaan pendapat) ulama dalam masalah kembalinya dhomir “Hu” dalam sabda Rasulullah r “Kholaqallahu Adam Ala Shurotihi” (Allah menciptakan Adam dalam bentuknya/-Nya).

Tentang masalah kembalinya dhomir “Hu” dalam hadits terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama.

Pendapat pertama: Sebagian ulama mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali kepada Allah berdasarkan lain yang berbunyi  “Kholaqallahu Adam ‘Ala shuroti Ar-Rohman” (Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman). Dengan demikian riwayat ini menafsirkan riwayat “Ala Shurotihi” [sebagaimana hal ini adalah pendapat Syaikh Abdul ‘Aziz bin bazz].

Pendapat kedua mengatakan bahwa dhomir (kata ganti) kembali kepada Adam, adapun riwayat yang berbunyi “… ‘Ala Shuratir rahman.” Adalah riwayat yang Syadz. Di antara mereka adalah Asy-Syaikh Muhammmad Nashiruddin Al-Albany.

 

Mana Yang Rajih ?

Adapun pendapat yang benar dalam masalah ini- wallahu a’lam- adalah pendapat kedua dengan alasan:

  1. 1.   Pertama: Bahwasannya riwayat “Ala shuroti Ar-Rohman” yang dijadikan dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa dhomir kembali kepada Allah adalah riwayat yang bathil, sehingga Imam Ahmad tidak menshohihkan Hadits ini). Sebagaimana diterangkan syaikh AL-Albani rahimahullah. Pembahasan hadits ini secara ilmiyah dapat dilihat dalam Silsilah Adh-Dho’ifah  [2/216] No.1176 .
  1. Kedua: Dhomir “Hu” tidak diragukan kembali kepada Adam –bukan kepada Allah- karena lafadz berikutnya menafsirkan dhomir Hu tersebut yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “Thuluhu sittuna dziro’an” (Allah ciptakan Adam dalam bentuknya, tingginya enampuluh hasta) dipastikan dan tdak diragukan bahwa ukuran tinggi enampuluh hasta adalah sifat makhluq bukan shifat Allah Ta’ala.

 

Tinggalah di hadapan kita satu permasalahan, yaitu jika dhomir kembali kepada Allah –seperti pendapat sebagian ulama- apa makna Hadits?

 

Untuk menjawabnya kita kembali kepada kaedah Allus Sunnah wal Jamaah yang telah kita singgung di awal majelis bahwasanya Allah tidak serupa dengan makhluq-Nya. Maka apapun yang dirojihkan oleh ulama tentang kembalinya dhomir hu, semua bersepakat bahwa hadits ini tidak ada makna tasybih- wallahu a’lam.

Jika dhomir “Hu” kembali kepada Allah maka ulama yang menguatkan pendapat ini (seperti syaikh bin bazz) meyakini tidak adanya tasybih dan tamtsil antara shifat Allah dan makhluk-Nya. Adapun maksud hadits ini kita katakan: “Allah ciptakan Adam seperti Ar-Rohman dari sisi bahwasannya Allah menciptakan Adam memiliki beberapa sifat di antaranya: wajah, tangan, jari-jemari, mendengar, melihat, berilmu. Dan sebagian sifat-sifat ini ada pada Allah, akan tetapi tentunya berbeda antara shifat Allah dan shifat makhluq, sebagaimana telah diketahui bahwasannya persamaan nama tidak mengharuskan persamaan hakekat, tidakkah kita perhatikan bahwa semut punya kaki dan gajah punya kaki, keduanya memliki sifat yang sama yaitu kaki akan tetapi kedua kaki mereka sangat berbeda. Jika dalam makhluk saja demikian maka bagaimana dengan Allah dan makhluk-Nya.

 

Sebagai penutup kita lampirkan Fatwa  Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Bazz rahimahullah dalam permasalahan ini, masih dalam bahasa Arab:

س : ورد حديث عن النبي r ينهي فيه عن تقبيح الوجه ، وأن الله سبحانه خلق آدم على صورته . . فما الاعتقاد السليم نحو هذا الحديث ؟  

ج : الحديث ثابت عن النبي r أنه قال :  ( إذا ضرب أحدكم فليتق الوجه فإن الله خلق آدم على صورته ) وفي لفظ آخر : (على صورة الرحمن ) وهذا لا يلزم منه التشبيه والتمثيل . والمعنى عند أهل العلم أن الله خلق آدم سميعا بصيرا ، متكلما إذا شاء ، وهذا هو وصف الله فإنه سميع بصير متكلم إذا شاء ، وله وجه جل وعلا . وليس المعنى التشبيه والتمثيل ، بل الصورة التي لله غير الصورة التي للمخلوق ، وإنما المعنى أنه سميع بصير متكلم إذا شاء ومتى شاء ، وهكذا خلق الله آدم ، سميعا بصيرا ، ذا وجه وذا يد وذا قدم ، ولكن ليس السمع كالسمع ، وليس البصر كالبصر ، وليس المتكلم كالمتكلم ، بل لله صفاته جل وعلا التي تليق بجلاله وعظمته ، وللعبد صفاته التي تليق به ، صفات يعتريها الفناء والنقص ، وصفات الله سبحانه كاملة لا يعتريها نقص ولا زوال ولا فناء ، ولهذا قال عز وجل : ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ) وقال سبحانه : (وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ) فلا يجوز ضرب الوجه ، ولا تقبيح الوجه .

Du unggah dari : http://salafartikel.wordpress.com/

Posted on Januari 30, 2012, in Aqidah, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: