Derajat Wali Lebih Tinggi Dari Nabi?!

Oleh: Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

قال النبي: ( إن من عباد الله لأناسا ما هم بأنبياء ولا شهداء يغبطهم الأنبياء والشهداء يوم القيامة بمكانهم من الله تعالى )  قالوا : يا رسول الله تخبرنا من هم قال : ( هم قوم تحابوا بروح الله على غير أرحام بينهم ولا أموال يتعاطونها فوالله إن وجوههم لنور وإنهم على نور لا يخافون إذا خاف الناس ولا يحزنون إذا حزن الناس ) وقرأ هذه الآية ( ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون ) ( صحيح )

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah ada manusia yang mereka bukan nabi bukan pula syuhada namun para nabi dan shuhada memuji dan kagum dengan mereka pada hari kiamat karena kedudukan mereka disisi Allah. Shahabat bertanya: Wahai Rasulullah kabarkanlah kepada kami siapa mereka. Rasul bersabda: Mereka adalah Kaum yang saling mencintai kareana Allah, sementara tidak ada hubungan darah diantara mereka, bukan pula karena harta yang mereka harapkan, demi Allah wajah-wajah mereka adalah cahaya dan mereka diatas cahaya, tidak takut disaat manusia takut, dan tidak bersedih dikala manusia bersedih. Kemudian Rasulullah membaca firman Allah:

ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yunus: 62

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan dalam Kitab Ar-Rohn, melalui jalan Zuhair bin Harb dan Utsman bin Abi Syaibah keduanya dari Jarir dari Umaroh bin Al-Qa’qa’ dari Abu Zur’ah bin ‘Amr bin Jarir dari Umar bin Al-Khoththob.

Sanad hadits ini Munqathi’ (terputus) karena Abu Zur’ah tidak meriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab sebagaimana diterangkan Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsir Surat Yunus. Namun datang dalam jalan lain riwayat hadits dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.

Abu Zur’ah termasuk rawi yang banyak meriwayatkan dari Abu Hurairah, seperti hadits terakhir dalam Shahih Al-bukhary melalui jalan Abu Zurah dari Abu Hurairah

Gharib Hadits

Makna تحابوا بروح الله dikatakan Rouh adalah Al quran

Faedah-Hadits

Hadits ini menunjukkan keutamaan saling mencintai karena Allah

Hadits ini menunjukkan keutamaan wali-wali Allah yang didapatkan dengan: Saling mencinta karena Allah bukan karena harta dan keluarga. Dan golongan ini salah satu dari tujuh golongan yang diberi naungan pada hari kiyamat.

Makna “Yaghbituhumul Anbiya’ – para nabi memuji dan mengakui kemuliaan mereka wali-wali Allah.”

Tidak ada isykal dalam lafadz ini, karena suatu hal yang wajar dan mungkin bahwa seorang yang lebih afdhol memiliki ghibthah  (kekaguman) pada orang yang mafdhul

Hadits ini tidak berarti bahwa mereka “Wali” lebih tinggi dari Nabi dan Rosul sebagaimana diyakini kaum shufi ekstrim. Mereka mengatakan derajat paling tinggi adalah wali kemudian nabi kemudian Rasul mereka berdalil dengan kisah Khidir dan Nabi Musa as, juga hadits yang ada dihadapan kita. Diantara sejelek-jelek manusia yang memiliki keyakinan ini adalah Syiah Rafidhah.

Khomeini menyatakan kalimat kufurnya dalam kitab: Hukumah Islamiyyah: Inna min dhoruroti madzhabina Anna liaimatina maqoman la yablughugu malakun moqorob walaa nabiyun mursal. Artinya: “Sesungguhnya termasuk ketetapan madzhab kami, bahwasannya imam-imam kami memiliki derajat yang tidak dicapai malaikat muqarrab tidak pula dicapai nabi.”

Demikian keyakinan mereka, dan akidah yang mereka tetapi. Mereka meyakini bahwa Imam-imam mereka, Ali, Hasan dan seterusnya lebih mulia dari nabi r dan malaikat.

Bantahan mereka yang mengatakan wali lebih mulia dari nabi dan Rasul:

  1. Telah menjadi kesepakatan ummat bahwa manusia paling mulia adalah para Nabi dan Rasul.
  2. Derajat wali tidak mungkin diperoleh seseorang kecuali dengan mengikuti jalan Nabi dan Ar-Rasul. Bahkan semua kebaikan yang diperoleh wali juga diberikan kepada Ar-Rasul, maka hal yang sangat mungkar seandainya ada yang meyakini bahwa wali lebih tinggi derajatnya dari nabi dan Rasul.
  3. Mereka yang berdalil denganhadits ini untuk menetapkan bahwa wali lebih mulioa dari nabi dan Rasul adalah pendalilan yang ngawur karena makna hadits: Mereka para nabi dan orang yang mati syahid memuji dan mengakui kemuliaan wali-wali Allah, dan bukan perkara yang aneh jika Al- Fadhil (orang yang mulia) Yaghbith (iri dan kagum) kepada yang mafdhul (orang yang lebih rendah kemuliaannya). Sebagai contoh: Ada seorang alim punya murid dan menjadi sangat faqih, tidak diragukan sang guru bertambah mulia dan pahalanya terus mengalir dengan sebab muridnya, namun suatu kewajaran jika terjadi ghibtoh dari guru kepada muridnya.

Posted on Januari 31, 2012, in Aqidah, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: