Ikhtilaf Umat Adalah Rahmat Allah Ta’ala, Benarkah?

Ungkapan ini tidak benar bahkan menyelisihi pokok-pokok akidah islam. ikhtilaf (perpecahan) umat bukan rahmat, justru sebaliknya ikhtilaf yang terjadi di tengah ummat adalah adzab.

Lalu bagaimana jika ada yang berdalil dengan hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam:

اختلاف أمتي رحمة

“Ikhtilaf ummatku adalah rahmat.”

Semakna dengan hadits ini, apa yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam:

اختلاف أصحابي لكم رحمة

“ikhtilaf shahabat-shahabatku adalah rahmat bagi kalian.”

Jika ada yang berdalil dengan hadits-hadits di atas untuk membangun keyakinan bahwa khilaf umat adalah rahmat, ketahuilah bahwasannya hadits ini bathil, tidak ada asalnya.

Perbedaan pendapat (khilaf) yang terjadi di tengah ummat bukanlah rahmat dalam masalah furu’ (fiqih ibadah), apalagi dalam masalah ushul

(pokok-pokok agama/aqidah).

Bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat, sementara akibatnya adalah tersesatnya manusia dari jalan yang Allah ridhai ?

Perhatikan contoh berikut, dalam suatu masalah sebagian mengatakan: ini halal. Sementara sebagian yang lain mengatakan ini haram. Jawablah dengan jujur: “Mungkinkah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada umat dalam suatu permasalahan dengan dua hukum yang bertentangan?” Suatu hal yang mustahil, kecuali dalam masalah yang di sana ada Nasikh dan Mansukh, ada hukum yang terhapus dan hukum yang menghapusnya, sepeti masalah ziaroh kubur, dahulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melarang kemudian beliau mengizinkannya.

Jika ada yang berkeyakinan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan suatu masalah dengan ajaran yang kontradiksi, artinya dia telah menisbatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak konsekwen dalam mengajarkan ilmu dan membuat ummat berada dalam kebingungan. Sampai sebagian manusia ghuluw dalam mentolelir masalah khilaf, mereka mengatakan bahwa setiap masalah yang terjadi khilaf di dalamnya sesungguhnya nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengatakannya, misalnya dalam masalah apakah keluarnya darah membatalkan wudhu’ atau tidak, mereka mengatakan bahwa nabi suatu saat ditanya tentang itu lalu menjawab: Keluarnya darah membatal wudhu, dalam kali yang lain rasul ditanya kemudian menjawab: Tidak batal.

Tidak diragukan bahwa ini adalah ghuluw, melampaui batas dalam mensikapi masalah khilafiyah.

Memang benar, dalam beberapa ahkam syar’iyyah (hukum-hukum syariat) terdapat tausi’ah (keluasan). Keluasan inilah yang dimaksud dengan khilaf tanawwu’.

Para ulama diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa khilaf (perbedaan) itu ada dua macam:

  1. 1.   Pertama: Khilaf Tadhod (Yaitu khilaf yang terjadi di dalamnya kontradiksi) seperti masalah menyentuh wanita membatalkan wudhu’ atau tidak, keluarnya darah membatalkan wudhu atau tidak, khomr najis atau bukan, zakat tijaroh (perdagangan) ada atau tidak. Khilaf seperti ini dikatakan tadhod –yakni khilaf yang saling bertentangan (kontradiksi). Ketahuilah bahwa khilaf seperti ini bisa dipastikan: tidak mungkin semua pendapat benar, karena sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak bertentangan satu dengan lainnya.
  2. 2.   Kedua: Khilaf tanawu’ (Yaitu perbedaan yang sumbernya adalah keragaman pengamalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam): misal, perbedaan bacaan doa iftitah, bacaan dzikir ketika sujud, dan bacaan duduk diantara dua sujud. Dalam masalah doa iftitah misalnya, kita dapatkan dalam kitab-kitab fikih terjadi perbedaan. Syafi’iyah memilih doa iftitah dengan lafadz: Wajjahtu wajhiya lilladzi fathorossamawati wal Ardh, Hanafiyah memilih lafadz: Subhanakallahumma wabihamdika watabarokasmuka wa ta’ala jadduka wa laa ilaaha ghoiruka, sementara  Hanabilah: Allahumma ba’id baini.

 

Bagaimanakah Sikap Kita dalam menghadapi dua jenis khilaf tersebut ?

Mensikapi jenis yang pertama dari khilaf, kewajiban kita adalah berusaha melihat mana yang benar dengan kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman shahabat.

Adapun jenis yang kedua, yaitu khilaf tanawwu’, sikap kita adalah kita bahwa semuanya benar, karena Rasulullah saw mengajarkan semuanya. Sehingga pada hakekatnya khilaf tanawwu’ itu bukan khilaf. Bahkan yang afdhol adalah kita amalkan semuanya semampu kita.

Apabila dalam masalah furu’ tidak terbayang bahwa Rasulullah saw mengucapkan perkara yang bertentangan, apalagi dalam masalah pokok-pokok agama. Adakah seorang yang berakal mengatakan bahwa suatu saat rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa menyembelih untuk selain Allah adalah kesyirikan lalu pada waktu yang lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa Menyembelih untuk selain Allah tidak mengapa ? Tentu ini perkara yang mustahil.

Contoh yang lain dalam masalah keyakinan di manakah Allah? Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin mengatakan dengan dua perkataan yang berbeda. Beliau hanya mengatakan: Allah beristiwa’ di atas Arsy. Tidak mungkin di waktu lain rasulullah saw mengatakan Allah itu dzatnya di mana-mana.

Jika ada yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan keduanya sungguh ini adalah tuduhan buruk kepada Rasulullh saw, dan syareat. Wallahu ta’ala A’lam

 

Disusun oleh Abu Isma’il Muhammad Rijal Lc

Disarikan dari Tanya jawab Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Sumber:

 

Posted on Februari 22, 2012, in Aqidah, Tanya Jawab, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: