Monthly Archives: Juni 2012

Kapan Wanita Boleh Shalat?

Tanya:

Kapan seorang wanita mengerjakan shalat fardhu di rumahnya, apakah setelah azan ataukah setelah iqamah?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Bila telah masuk waktu shalat, maka para wanita yang berada di rumah-rumah bisa mengerjakan shalat tanpa menanti iqamah. Begitu terdengar adzan muadzin yang memang menyerukan adzannya saat telah masuk waktu shalat maka para wanita bisa langsung shalat dan boleh juga mereka menunda dari awal waktunya, wallahu a’lam. (al-Muntaqa, 3/181)

Majalah AsySyariah Edisi 080

Beberapa Penafsiran Batil Dari Kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illallah

Untuk lebih memantapkan pemahaman kita terhadap makna kalimat tauhid yang mulia “Laa Ilaha Illallah“, maka di sini kami akan menjelaskan beberapa penafsiran yang batil dari kalimat tauhid ini. Karena sesuatu tidak akan bisa dikenali secara sempurna kecuali dengan mengenal lawannya, demikian pula kalimat tauhid yang mulia ini tidak akan bisa dipahami maknanya secara sempurna kecuali setelah mengenal dan memahami penafsiran-penafsiran yang batil yang dibuat oleh orang-orang yang berpenyakit hatinya terhadap kalimat tauhid ini.

Sebagaimana dikatakan oleh seorang penya`ir :

فَالضِّدُّ يُظْهِرُ حُسْنَهُ الضِّدُّ وَبِضِدِّهَا تَتَبَيَّنُ الْأَشْيَاءُ

“Sesuatu akan dinampakkan kebaikannya oleh kebalikannya dan dengan kebalikannyalah semua perkara bisa menjadi jelas”.

Dan sebagiannya lagi berkata :

عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّوَلَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الْخَيْرَ مِنَ الشَّرِّوَقَعَ فِيْهِ

“Saya mengetahui kejelekan bukan untuk kejelekan akan tetapi untuk menghindar darinya, karena barangsiapa yang tidak mengetahui kebaikan dari kejelekan maka dia akan terjatuh ke dalamnya (kejelekan tersebut)”.

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah homenetapkan dalam firmannya :

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat (Al Qur’an) dan supaya jelas jalannya orang-orang yang berdosa”. (QS. Al-An’am : 55)

Berkata As-Sa’dy dalam Tafsirnya : ““Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat (Al Qur’an)” Yakni kami menjelaskan, menerangkan dan membedakan antara jalan hidayah dan kesesatan dan (antara jalan) penyelewengan dan petunjuk, agar orang-orang yang diberi hidayah bisa mendapatkan hidayah dengannya dan agar semakin nampak kebenaran yang harus untuk diikuti. “dan supaya jelas jalannya orang-orang yang berdosa” yang mengantarkan kepada kemurkaan Allah dan siksaanNya, karena jalannya orang-orang yang mujrim jika telah nampak dan jelas maka mudah untuk menghindari dan menjauh darinya, berbeda kalau jalan mereka masih kabur dan kurang jelas, karena dengan demikian maksud yang mulia ini (menjauh darinya dan agar jelas jalannya orang-orang yang sholeh) tidak bisa terwujud”.

Berikut pemaknaan yang batil dari kalimat tauhid ini yang banyak tersebar dan sering didengang-dengungkan di tengah-tengah kaum muslimin saat ini :

1. Tidak ada yang ada kecuali Allah. (Laa Mawjuda Illallah)

(lebih…)