Dua Teman Ku

Oleh : Al Akh Wira Bachrun Al Bankawy

Saya punya cerita tentang teman sekamar di sini, di Darul Hadits Syihir Hadramaut. Mereka berdua adalah orang Yaman yang berasal dari daerah Yafi’. Sebuah tempat yang dekat dengan kota Aden, selatan Yaman. Sebut saja namanya Abdullah dan Abdurrahman.

Mereka adalah dua orang teman terbaik saya. Kami belajar bersama, mengulang pelajaran bersama, kadang di hari libur kami keluar untuk makan di rumah makan sederhana yang tidak jauh dari markiz untuk mengurangi rasa bosan makan makanan markiz.

Di akhir pekan, terkadang sebelum tidur, kami bercerita. Bercerita tentang daerah asal kami, tentang keluarga, tentang perjalanan hidup, tentang banyak hal.

Ketika mereka bercerita tentang keluarga, ada satu perkara yang membuat saya tertegun.

Abdullah dan Abdurrahman adalah dua orang anak yang tumbuh tanpa bapak.

Abdullah adalah anak seorang komandan tentara di Aden yang ketika itu menjadi ibukota Republik Yaman Selatan yang sosialis. Meskipun ketika itu Yaman Selatan adalah negara sosialis-komunis yang melarang pegawai negeri dan militer untuk menampakkan agamanya, ayah Abdullah adalah seorang yang shalih. Di setiap Jum’at dia pulang ke kampungnya di Yafi’ untuk memberikan khutbah Jum’at.

Allah selanjutnya menakdirkan Yaman Utara dan Yaman Selatan bersatu di tahun 1990.

Persatuan ini tidak berlangsung lama. Bulan Mei 1994, pecahlah perang saudara antara Yaman Utara dan Yaman Selatan. Ketika berusaha mempertahankan Aden dari serangan tentara utara, ayah Abdullah gugur. Ketika itu usia Abdullah baru sepuluh tahun. Sejak itu Abdullah hanya diasuh oleh ibunya yang memutuskan untuk tidak menikah lagi dengan bantuan dari saudara-saudara ayahnya.

Alhamdulillah, dengan bimbingan yang baik dari ibunya Abdullah tetap tumbuh menjadi seorang pemuda yang shalih. Dia adalah penuntut ilmu yang penuh semangat, seorang hafizh dan insya Allah dalam waktu dekat ini dia akan menikah dan memulai hidup barunya di Saudi Arabia, mengikuti abang-abangnya yang sudah mapan di Saudi.

Adapun Abdurrahman..

Ayah Abdurrahman adalah seorang kepala qabilah. Ketika ibunya sedang hamil dia, terjadi konflik bersenjata antara qabilah bapaknya dengan qabilah yang lain. Perlu diketahui bahwa Yaman adalah negara bebas senjata. Di kampung-kampung kita bisa melihat banyak laki-laki dewasa menenteng senapan AK buatan Rusia, atau membawa revolver di sabuk pinggang mereka.

Ayah Abdurrahman pun berusaha mengusahakan perdamaian dengan bertemu dengan kepala suku yang sedang konflik tadi. Mereka berjanji untuk bertemu di satu tempat.

Kepala qabilah yang lain itu adalah seorang yang sangat tua. Dia begitu berwibawa dan disegani. Rombongan Ayah Abdurrahman akhirnya menemui sang kepala qabilah beserta para pengawalnya.

Perundingan ternyata tidaklah berjalan lancar, sampai akhirnya mereka beradu mulut dan berakhir dengan saling tembak. Syaikh qabilah yang sudah tua tadi pun tewas tertembak tanpa ada yang tahu siapa yang menembak karena suasana sudah begitu kacau. Ayah Abdurrahman dan para pengawalnya kemudian kabur meninggalkan tempat itu.

Qabilah yang kepala sukunya terbunuh pun kemudian berkumpul, mereka lalu berkonvoi ingin melakukan pembalasan dengan membantai qabilah yang diketahui ayah Abdurrahman.

Alhamdulillah, sebelum terjadi pembalasan dendam itu berhasil dicegah oleh tentara pemerintah. Kemudian mereka pun berunding dengan dimediasi oleh pemerintah. Qabilah musuh meminta agar pelaku penembakan terhadap kepala suku diqishosh (dihukum mati). Qabilah Abdurrahman juga sepakat kalau pelakunya harus diqisosh, tapi permasalahannya siapa yang menembak pertama kali? Siapa pula yang menembak kepala suku sampai mati? Suasana waktu itu benar-benar kacau sehingga pelakunya tidak bisa diketahui.

Perundingan itu mengalami jalan buntu sampai-sampai akan terjadi peperangan lagi di antara mereka.

Sampai akhirnya… Untuk menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah yang lebih banyak, Ayah Abdurrahman merelakan dirinya untuk diqishosh. Dihukum bunuh sebagai ganti darah kepala suku yang terbunuh.

Meski awalnya qabilah Abdurrahman tidak menyetujui keputusan sang ayah, akhirnya demi menjaga jiwa banyak orang mereka pun merelakan ayah Abdurrahman untuk dibawa ke ibukota San’a untuk dieksekusi.

Abdurrahman pun akhirnya lahir dan tumbuh tanpa ayah. Sampai sekarang, usianya menginjak 20 tahun, dia belum pernah sekali pun melihat ayahnya. Dari kabar yang dia terima, sebenarnya ayahnya tidak jadi dieksekusi karena hakim tidak melihat ada bukti kalau dia yang membunuh. Tapi ayahnya tetap ditahan di penjara karena kalau kembali ke qabilahnya, akan terjadi kembali pertumpahan darah.

Ibu Abdurrahman tidak menikah lagi. Dia memilih untuk membesarkan anak-anaknya sendiri. Tahun kemarin Abdurrahman telah menyelesaikan hapalan Al Qurannya. Sekarang dia sedang mengurus pendaftarkn dirinya di Universitas Islam Madinah. Terus menuntut ilmu sebagai bentuk bakti kepada ayah ibunya.

Mereka berdua akan segera meninggalkan Darul Hadits Syihir, dan meninggalkanku. Dua orang sahabat yang begitu berharga dengan kisah hidup yang mengharukan. Bersyukurlah kita yang tumbuh dengan bimbingan kedua orangtua kita, dan bagi para ummahat yang terpaksa menjadi single parent, janganlah pernah patah semangat dalam mendidik anak-anak. Memang sulit untuk membesarkan anak sendiri, tapi dengan kesabaran, ketelatenan dan senantiasa berdoa meminta bantuan dari Allah niscaya anak-anak itu akan tumbuh menjadi anak yang shalih dan berbakti kepada orang tuanya.

Wallahu a’lam.

Posted on Juni 13, 2012, in Anak & Keluarga, Kisah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: