Arsip Blog

Bolehkah mengadakan syukuran rumah baru?!

Tanya : 

Apakah hukumnya melakukan syukuran ketika akan pindah rumah dan hal-hal apa yang perlu dilakukan ketika akan pindah rumah menurut tuntunan Rasulullah?

Jawab : 

Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah menjawab,

Tidak mengapa mengadakan pesta (undangan makan) ketika pindah ke rumah baru, dengan mengundang teman-teman dan karib kerabat, jika dia mengerjakannya semata-mata untuk mengungkapkan kesenangan dan kegembiraannya. Adapun jika acara itu disertai dengan keyakinan bahwa acara itu bisa mencegah kejelekan jin, maka mengerjakan amalan ini tidak boleh, karena itu adalah kesyirikan dan keyakinan yang rusak. Adapun jika dikerjakan karena adat, maka tidak masalah.” [Dinukil dari Al-Muntaqa jilid 5 no. 444]

Dan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya dengan teks soal sebagai berikut:

“Telah membudaya di tengah-tengah manusia, bahwa siapa saja yang pindah ke rumah baru atau membeli rumah baru atau dia mendapat pekerjaan atau dia naik jabatan atau yang semisalnya, maka dia mengadakan semacam acara makan-makan. Apa hukum amalan ini?”

Syaikh rahimahullah menjawab,

Ini termasuk dari pesta-pesta yang mubah, maka boleh bagi seseorang untuk mengadakan acara ketika dia pindah ke rumah baru atau ketika dia lulus -misalnya-. Yang jelas, jika pestanya diadakan karena adanya moment tertentu, maka tidak ada masalah.” [Dinukil dari Fatawa Muhimmah li Muwazhzhifil Ummah]

Wallahu A’lam.

(Dijawab oleh Ust. Hammad Abu Mu’awiyah)
sumber: http://almakassari.com/tanya-jawab/hukum-syukuran-pindah-rumah.html

 

 

 

Hukum Salaman Setelah Sholat

      Tanya : Apa hukum salaman (mushofahah) seusai sholat?, apakah disana dibedakan antara sholat wajib dan sholat sunnah (nafilah)?

     Jawab : hukum asal mushofahah ketika antara kaum muslimin bertemu adalah disyariatkan. Dan dahulu Nabi ‘Alaihisholatuwassalam senantiasa menjabat tangan para sohabat apabila beliau menemui mereka. Anas rodhiallohu’anhu dan juga As Sya’bi rohimahulloh berkata: dahulu sahabat-sahabat Nabi ‘Alaihisholatuwassalam apabila mereka saling bertemu mereka saling berjabat tangan, dan apabila mereka datang dari safar mereka saling bermuanaqoh (saling mempertemukan pipikanannya dengan pipikanan saudaranya). Dan telah tsabit dalam shohihain bahwasannya Tolhah bin Ubaidillah salah seorang dari 10 orang yang dijamin masuk surga beliau berdiri dari majlis di masjid beliau dan menuju Ka’ab bin Malik (ketika beliau Allah ta’ala menerima taubat beliau) maka beliau menjabat tangannya dan mengucapkan tahniah dengan taubat dan halini merupakan perkara yang masyhur diantara kaum muslimin di zaman beliau ‘Alaihisholatuwassalam. Dan telah tsabit dari Nabi ‘Alaihisholatuwassalam bahwasannya beliau bersabda “tidaklah dua orang muslim bertemu kemudian saling berjabat tangan, kecuali akan berjatuhan dari keduanya dosa-dosa mereka berdua sebagaimana dedaunan jatuh dari pohonnya”.

Dan mustahab (diseenangi) bersalaman ketika bertemu di masjid atau ketika di shof sholat. apabila sebelum sholat belum bersalaman, maka bersalaman setelah sholat sebagai realisasi dari sunnah yang agung ini. Karena dalam hal itu memperkuat persaudaraan dan menghilangkan permusuhan.

Apabila belum bersalaman sebelum sholat wajib, disyariatkan baginya bersalaman setelah sholat yaitu setelah dzikir ba’da sholat yang disyariatkan. Adapun yang dilakukan sebagian manusia, yaitu menyegerakan salaman setelah sholat wajib dimulai setelah salam yang kedua dlam sholat. Maka saya tidak tau asalnya bahkan yang nampak, haltersebut makruh. Karena hal tersebut  tidak ada dalilnya. Dan juga orang yang sholat, disyariatkan baginya dalam kondisi seperti ini untuk menyegerakan membaca dzikir yang masyru’ sebagaimana dilakukan oleh Nabi ‘Alaihi sholatuwassalam setelah salam dalam sholat fardhu.

Adapun sholat nafilah, maka disyariatkan untuk bersalaman setelah salam apabila belum bermushofahah sebelum masuk sholat. Apabila sudah maka cukup sebelum sholat itu.

(diterjemahkan dari Tuhfatul Ikhwan As Syaikh Bin Baz hal 93-94)