Bekal Yang Menipis di PERANG TABUK

Panas sahara mendera jazirah Arab. Bukit-bukit cadas berdiri kokoh, bertebaran di padang pasir … itulah medan yang ditempuh tentara-tentara Allah, shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Tabuk

Dalam perang Tabuk kaum muslimin membawa perlengkapan dan kebutuhan seperlunya sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan. Meskipun dengan perlengkapan dan perbekalan secukupnya para sahabat tidak pernah berkeluh kesah apalagi berputus asa dari jihad fi sabilillah. Mereka selalu gigih dalam memperjuangkan agama Allah, Mereka selalu sabar dalam menyebarkan islam dan memerangi musuh-musuh Allah hingga titik darah penghabisan.

Di antara bukti kegigihan itu adalah ketika perang Tabuk yang terjadi di bulan Rajab di musim panas tahun 9 H. Tahun itu bertepatan dengan musim panas, di tengah teriknya matahari yang menyengat para sahabat-sahabat Rasul berjalan membelah padang pasir yang panas, menyeberang lembah-lembah sahara menuju Tabuk mencari keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala.

Menjelang hari pertempuran, perbekalan pasukan kaum muslimin menipis, kelaparan pun menimpa pasukan mereka.

Serombongan sahabat datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mereka berkata: “Wahai Rasulullah, besok kita berhadapan dengan musuh, mereka dalam keadaan kenyang sementara kita lapar. Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, kalau seandainya engkau izinkan, bagaimana seandainya kita sembelih sebagian unta-unta tunggangan agar kita bisa makan.”

Dengan penuh kasih sayang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Ya lakukanlah.”

Begitu mendapat izin, mereka bergegas meninggalkan majelis Rasulullah saw untuk menyembelih sebagian unta.

Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu’anhu berpapasan lalu bertanya: “Dari mana kalian ?”   

Mereka menjawab: “Kami baru saja menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta izin menyembelih sebagian unta untuk tambahan bekal menghadapi musuh, dan beliau mengizinkan kami.”

Umar berkata: “Aku minta kalian kembali kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersamaku.”

Di majelis Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Umar berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya mereka menyembelih unta-unta tunggangan, kendaraan kita menjadi sedikit, seandainya engkau berkenan, bagaimana jika Engkau minta mereka untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan, lalu engkau berdoa, niscaya Allah akan memberkahinya.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyepakati usulan Umar, beliau perintahkan para shahabat untuk mengumpulkan sisa perbekalan. Datanglah sebagian mereka dengan satu sha’ makanan, sebagian lagi datang dengan segenggam gandum, segenggam korma, ada pula diantara mereka datang dengan potongan roti bahkan ada diantara mereka datang dengan biji-biji korma.

La haula wala quwwata illa billah, sungguh menakjubkan, kesetiaan dan kesabaran Sahabat berjuang di jalan Allah meskipun sisa bekal hanya biji-biji korma yang mereka hisap dan mereka rendam untuk sekedar memberi rasa manis pada minuman-minuman mereka.

Sisa perbekalan dikumpulkan seadanya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berdoa kepada Allah agar Dia memberkahi makanan-makanan tersebut.

Maha suci Allah, setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa, seluruh pasukan dipanggil untuk mengambil perbekalan dari makanan yang telah didoakan. Setiap kali mereka mengambil dan memenuhi kantong-kantong perbekalan mereka, setiap kali itu pula makanan bertambah dan bertambah, hingga seluruh pasukan membawa banyak perbekalan.

Wajah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berseri melihat pertolongan Allah, beliau tertawa hingga kelihatan gigi gerahamnya seraya bersabda:

“Asyhadu allailaha illallah wahdahu Laa Syarikalah wa Asyhadu Anna Muhammadan ‘Abduhu Wa rosuluh, man jaa biha yaumal Qiyamah Ghoiro Syaakin Adkholahullahul Azza Wa jalla Al-Jannah,

(Aku bersaksi sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, Dia Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Barangsiapa di hari kiamat membawa persaksian ini tanpa keraguan sungguh Allah akan masukkan ia ke Jannah-Nya.)”[1] (Dinukil dari buku: Kisah-kisah Menakjubkan dari Mukjizat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, penyusun: Abu Isma’il Muhammad Rijal, Lc)


[1] Kisah ini shahih diriwayatkan melalui banyak jalan dari beberapa sahabat diantaranya Abu ‘Amrah Al Anshori, Abu Hurairah, Abu Sa’id Al Khudri dan Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhum dengan lafadz-lafadz yang beragam.

Posted on Januari 30, 2012, in Kisah, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: